PErbedaan Praktek Bidan, Perawat, dan Farmasi



MAKALAH
PERBEDAAN PRAKTEK
BIDAN, PERAWAT, DAN FARMASI
Dosen : Ade Tikah , S.KP, Ners.
Mata Kuliah : Keperawatan Profesional




DISUSUN OLEH :

KELOMPOK I



SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI KENCANA
BANDUNG
D III KEPERAWATAN EKSTENSI
2012


KATA PENGANTAR
Syukur dan Alhamdulillah kami panjatkan  kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul "Perbedaan Praktek Keperawatan Bidan, Perawat, dan Farmasi" ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai tugas untuk mata kuliah Keperawatan profesional. Keberhasilan penyusun dalam penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penyusun menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini :
  1. Ibu Ade Tikah, SKP, Ners selaku dosen pembimbing mata pelajaran Keperawatan Profesional.
  2. Keluarga besar DIII Keperawatan Ekstensi “Paguyuban Cakcak Heuay “ Angkatan 2011 STIKES Bhakti Kencana Bandung terimakasih untuk support, doa dan ide cemerlangnya .
Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan yang masih perlu diperbaiki, untuk itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini, sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Bandung , 09 Maret 2012
Penyusun











DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                                                                      
Daftar Isi                                                                                                                                
BAB I. PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang                                                                                                               
1.2     Rumusan Masalah                                                                                                          
1.3     Tujuan                                                                                                                             
1.4     Manfaat                                                                                                                          
1.5     Sistematika Pembahasan                                                                                               
BAB II .PEMBAHASAN
2.1   Praktek Bidan                                                                                                                 
2.2   Praktek Perawat ( Keperawatan )                                                                                  
2.3   Praktek Farmasi                                                                                                             
BAB III. PENUTUP                                                                                                       
3.1  Kesimpulan                                                                                                                    
3.2  Saran                                                                                                                              
BAB IV. DAFTAR PUSTAKA                                                                                                 



BAB I
PENDAHULUAN
PERBEDAAN PRAKTEK BIDAN, PERAWAT DAN FARMASI

1.1   Latar belakang
Peran serta pelaksana pelayanan kesehatan khususnya bidan, perawat dan farmasi dalam upaya meningkatkan taraf hidup sehat masyarakat begitu signifikan, tetapi keberadaannya selama ini masih sebagai pembantu dokter , sebetulnya mereka pun diperkenankan untuk menyelenggarakan praktek diluar praktek mandiri dan atau praktek mandiri.
Bila melihat dari fungsi dan kedudukan mereka dalam pelayanan kesehatan ketiganya memiliki fungsi masing –masing tetapi salang berkesinambungan diantara ketiganya.
Penyelenggaraan praktek diluar praktek mandiri dan atau praktek mandiri bidan, perawat , dan farmasi mengikis persepsi bahwa mereka bukan lagi pembantu dookter melainkan teman sejawat yang masing mempunyai hak dan kewajiban serta fungsi independen diantara ketigannya.
Berdasarkan KEPMENKES RI NOMOR 369/MENKES/SK/III/2007 saat ini bidan boleh menyelenggarakan praktek kebidanan secara mandiri dibawah naungan IBI ( Ikatan Bidan Indonesia ) dengan ketentuan seorang bidan dalam penyelenggaraan praktek mandiri atau diluar praktek madiri wajib memiliki legalisai,registrasi dan lisiensi.
Begitupun dengan praktek keperawatan berdasarkan standar praktek keperawatan yang di perkuat dengan PERMENKES NOMOR HK. 02.02/MENKES/148/2010 bahwa seorang perawat diperkenankan untuk menyelenggarakan praktek mandiri dan atau diluar praktek mandiri dengan ketentuan harus memiliki STR ,SIPP dari organisasi bersangkutan sebagai bentuk legalisasi praktek keperawatan.
Hal senada pun di canangkan oleh ATFI ( Asosiasi Tenaga Farmasi Indonesia ) tentang penyelenggaraan praktek kefarmasian dengan ketentuan seorang tenaga farmasi memiliki STRA ( Surat Tanda Registrasi Apoteker )yang didapat dengan mengikuti uji kopetensi.
1.2   Tujuan
Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Profesional di STIKES BHAKTI KENCANA BANDUNG.
1.3   Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas penyusun memngambil beberapa permasalahan yang dijadikan rumusan masalah tentang perbedaan praktek bidan, perawat, dan farmasi.
1.4   Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang perbedaan praktek bidan , perawat, dan farmasi.
1.5   Sistematika Pembahasan
BAB I Pendahuluan berisi tentang latarbelakang, tujuan, rumusan maslah , manfaat dan sistematika embahasan
BAB II Pembahasan berisi tentang praktek kebidanan , praktek keperawatan, dan praktek kefarmasian
BAB III Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.
BAB IV Daftar pustaka berisi tentang lisiensi atau literatur yang digunakan dalam penyusunan makalah.














BAB II
PEMBAHASAN
PERBEDAAN PRAKTEK BIDAN, PERAWAT DAN FARMASI

2.1    Praktek Bidan
A.      Pengertian
Definisi bidan menurut International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International Gynecologist Obstetrition (FIGO). Definisi tersebut secara berkala di review dalam pertemuan Internasional / Kongres ICM. Definisi terakhir disusun melalui konggres ICM ke 27, pada bulan Juli tahun 2005 di Brisbane Australia ditetapkan sebagai berikut: Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan.
Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawatdaruratan. Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak. Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.
Sedangkan defenisi Bidan menurut Ikatan Bidan Indonesia ( IBI ) adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan. Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-awab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawatdaruratan.
Menurut cabang ilmunya bidan atau Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keilmuan dan seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir dan balita, fungsi–fungsi reproduksi manusia serta memberikan  bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga dan komunitasnya.
B.      Sumber hukum Praktek Bidan
KEPMENKES RI NOMOR 369/MENKES/SK/III/2007 Tentang standar profesi bidan , dalam penyelenggaraan praktek bidan atau kebidanan diharuskan memeiliki :
1.      Legislasi
Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan perangkat hukum yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi ( pengaturan kompetensi ), registrasi ( pengaturan kewenangan ), dan lisensi ( pengaturan penyelenggaraan kewenangan ).Ketetapan hukum yang mengantur hak dan kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakan dan pengabdiannya.
Rencana yang sedang dijalankan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sekarang adalah dengan mengadakan uji kompetensi terhadap para bidan, minimal sekarang para bidan yang membuka praktek atau memberikan pelayanan kebidanan harus memiliki ijasah setara D3.
Uji kompetensi yang dilakukan merupakan syarat wajib sebelum terjun ke dunia kerja. Uji kompetensi itu sekaligus merupakan alat ukur apakah tenaga kesehatan tersebut layak bekerja sesuai dengan keahliannya. Mengingat maraknya sekolah-sekolah ilmu kesehatan yang terus tumbuh setiap tahunnya.
Jika tidak lulus dalam uji kompetensi, jelas bidan tersebut tidak bisa menjalankan profesinya. Karena syarat untuk berprofesi adalah memiliki surat izin yang dikeluarkan setelah lulus uji kompetensi,
Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan yang telah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut adalah meliputi :
-          Mempertahankan kualitas pelayanan
-          Memberi kewenangan
-          Menjamin perlindungan hukum
-          Meningkatkan profisionalisme
SIB adalah bukti Legislasi yang dikeluarkan oleh DEPKES yang menyatakan bahwa bidan berhak menjalankan pekerjaan kebidanan .
2.      Registrasi
Registrasi adalah sebuah proses dimana seorang tenaga profesi harus mendaftarkan dirinya pada suatu badan tertentu secara periodic guna mendapatkan kewenangan dan hak untuk melakukan tindakan profesionalnya setelah memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh badan tesebut.
Registrasi adalah proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan terhaap bidan, setelah dinyatakan memenuhi minimal kopetensi inti atau standar penampilan minimal yang ditetapkan, sehingga secara fisik dan mental mampu melaksanakan praktik profesinya. (Registrasi menurut keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor 900/MENKES/SK/VII/2002)
Dengan teregistrasinya seorang tenaga profesi, maka akan mendapatkan haknya untuk ijin praktik ( lisensi ) setelah memenuhi beberapa persyaratan administrasi untuk lisensi.
Tujuan Registrasi :
-     Meningkatkan keemampuan tenaga profesi dalam mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berkembang pesat.
-    Meningkatkan mekanisme yang obyektif dan komprehensif dalam penyelesaian kasus mal praktik.
-      Mendata jumlah dan kategori melakukan praktik
Aplikasi proses regisrtasi dalam praktek kebidanan adalah sebagai berikut, bidan yang baru lulus mengajukan permohonan dan mengirimkan kelengkapan registrasi kepada kepala Dinas Kesehatan Propinsi dimana institusi pendidikan berada guna memperoleh SIB ( surat ijin bidan ) selambat-lambatnya satu bulan setelah menerima Ijasah bidan. Kelengkapan registrasi menurut Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 adalah meliputi: fotokopi ijasah bidan, fotokopi transkrip nilai akademik, surat keterangan sehat dari dokter, pas foto sebanyak 2 lembar.
SIB berlaku selama 5 tahun dan dapat diperbaharui, serta merupakan dasar untuk penerbitan lisensi praktik kebidanan atau SIPB ( surat ijin praktik bidan ). SIB tidak berlaku lagi karena: dicabut atas dasas ketentuan perundang-undangan yang berlaku, habis masa berlakunya dan tidak mendaftar ulang, dan atas permintaan sendiri.
3.      Lisiensi
Lisensi adalah proses administrasi yang dilakukan oleh pemerintah atau yang berwenang berupa surat ijin praktik yang diberikan kepada tenaga profesi yang teregistrasi untuk pelayanan mandiri.
Lisensi adalah pemberian ijin praktek sebelum diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah ditetapkan.(IBI)
Tujuan lisensi adalah:
-          Memberikan kejelasan batas wewenang
-          Menetapkan sarana dan prasarana
-          Meyakinkan klien
Aplikasi Lisensi dalam praktik kebidanan adalah dalam bentuk SIPB (Surat Ijan Praktik Biadan). SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Depkes RI kepada tenaga bidan yang menjalankan praktik setelah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Bidan yang menjalankan praktik harus memiliki SIPB, yang diperoleh dengan cara mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten atua Kota setempat dengan memenuhi persyaratan sebagai beriku: fotokopi SIB yang masih berlaku, fotokopi ijasah bidan, surat persetujuan atasan, surat keterangan sehat dari dokter, rekomendasi dari organisasi profesi, pas foto. Rekomendasi yang telah diberikan organisasi profesi setelah terlebih dahulu dilakukan penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan, kepatuhan terhadap kode etik serta kesanggupan melakukan praktik bidan.
Bentuk penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan inilah yang diaplikasikan dengan rencana diselenggarakannya Uji Kompetensi bagi bidan yang mengurus SIPB atau lisensi. Meskipun Uji Kompetensi sekarang ini baru pada tahap uji coba dibeberapa wilayah, termaksud Propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, sehingga ,memang belum dibakukan.
SIPB berlaku sepanjang SIB belum habis masa berlakunya dan dapat diperbaharui kembali.
C.      Ruang Lingkup Pelayanan Praktek Kebidanan
Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan.Praktik Kebidanan adalah implementasi dari ilmu kebidanan oleh bidan yang bersifat otonom, kepada perempuan, keluarga dan komunitasnya, didasari etika dan kode etik bidan.
Pelayanan Kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga, sesuai dengan kewenangan dalam rangka tercapainya keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga, dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan pelayanan kebidanan dapat dibedakan menjadi :
1.    Layanan Primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan.
2.    Layanan Kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota timyang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
3.    Layanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem layanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat/ fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horizontal maupun vertikal atau meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya.
Dalam menjalankan perannya bidan memiliki keyakinan yang dijadikan panduan dalam memberikan asuhan. Keyakinan tersebut meliputi :
-  Keyakinan tentang kehamilan dan persalinan. Hamil dan bersalin merupakan suatu proses alamiah dan bukan penyakit.
-   Keyakinan tentang Perempuan. Setiap perempuan adalah pribadi yang unik mempunyai hak, kebutuhan, keinginan masing-masing. Oleh sebab itu perempuan harus berpartisipasi aktif dalam setiap asuhan yang diterimanya.
-   Keyakinan fungsi Profesi dan manfaatnya. Fungsi utama profesi bidan adalah mengupayakan kesejahteraan ibu dan bayinya, proses fisiologis harus dihargai, didukung dan dipertahankan. Bila timbul penyulit, dapat menggunakan teknologi tepat guna dan rujukan yang efektif, untuk memastikan kesejahteraan perempuan dan janin/bayinya.
-  Keyakinan tentang pemberdayaan perempuan dan membuat keputusan. Perempuan harus diberdayakan untuk mengambil keputusan tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dan konseling. Pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab bersama antara perempuan, keluarga dan pemberi asuhan.
-     Keyakinan tentang tujuan Asuhan. Tujuan utama asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi (mengurangi kesakitan dan kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada: pencegahan, promosi kesehatan yang bersifat holistik, diberikan dengan cara yang kreatif dan fleksibel, suportif, peduli; bimbingan, monitor dan pendidikan berpusat pada perempuan; asuhan berkesinambungan, sesuai keinginan dan tidak otoriter serta menghormati pilihan perempuan.
- Keyakinan tentang Kolaborasi dan Kemitraan. Praktik kebidanan dilakukan dengan menempatkan perempuan sebagai partner dengan pemahaman holistik terhadap perempuan, sebagai satu kesatuan fisik, psikis, emosional, sosial, budaya, spiritual serta pengalaman reproduksinya. Bidan memiliki otonomi penuh dalam praktiknya yang berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
-     Sebagai Profesi bidan mempunyai pandangan hidup Pancasila, seorang bidan menganut filosofis yang mempunyai keyakinan didalam dirinya bahwa semua manusia adalah mahluk bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yang unik merupakan satu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dan tidak ada individu yang sama.
-     Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan dan perbedaan kebudayaan. Setiap individu berhak menentukan nasib sendiri dan mendapatkan informasi yang cukup dan untuk berperan disegala aspek pemeliharaan kesehatannya.
-     Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita usia subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapat pelayanan yang berkualitas.
-  Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga, yang membutuhkan persiapan sampai anak menginjak masa masa remaja.
-     Keluarga-keluarga yang berada di suatu wilayah/daerah membentuk masyarakat kumpulan dan masyarakat Indonesia terhimpun didalam satu kesatuan bangsa Indonesia. Manusia terbentuk karena adanya interaksi antara manusia dan budaya dalam lingkungan yang bersifat dinamis mempunyai tujuan dan nilai-nilai yang terorganisir.
Pelayanan kebidanan berfokus pada upaya pencegahan, promosi kesehatan, pertolongan persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, melaksanakan tindakan asuhan sesuai dengan kewenangan atau bantuan lain jika diperlukan, serta melaksanakan tindakan kegawat daruratan.
Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.
Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.
2.2    Praktek Perawat
A.      Pengertian
Menurut konsorsium Ilmu-ilmu Kesehatan (1992) praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat professional / ners melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif baik dengan klien maupun tenaga kesehatan lain dalam upaya memberikan asuhan keperawatan yang holistic sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk praktik keperawatan individu dan berkelompok.
Sementara praktik keperawatan profesional adalah tindakan mandiri perawat professional dengan menggunakan pengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh mencakup ilmu dasar dan ilmu keperawatan sebagai landasan dan menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan dalam melakukan asuhan keperawatan (pokja keperwatan CHS,2002).
Sedangkan pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko- soiso- spiritual yang komprehensif, di tujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencagkup seluruh proses kehidupan manusia.
B.      Sumber Hukum Praktek Perawat
1.    UU No. 23 / 1992  Tentang Kesehatan
-   Pasal 32 Ayat 4 “ Pelaksanaan pengobatan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan , hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu “
-  Pasal 53 Ayat 1 “ Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai denga profesinya.”
-  Pasal 53 Ayat 2 “ Tenaga Kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien “
2.    KEPMENKES 1239/2001 tentang registrasi dan praktik keperawatan yang mengatur hak, kewajiban, dan kewajiban perawat, tindakan-tindakan keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat dalam menjalankan praktiknya, dan persyaratan praktik keperawatan dan mekanisme pembinaan dan pengawasan.
-  Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.
-       Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter
-       Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :
-       Menghormati hak pasien
-       Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
-       Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
-       Memberikan informasi
-       Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
-       Melakukan catatan perawatan dengan baik
-       Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang , perawat berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
- Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan SIPP di ruang praktiknya
-  Perawat yang menjalankan praktik perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktik  (sedang dlam proses amandemen)
3      SK DIRJEN DIRJEN YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311  tentang tindakan keperawatan mandiri dalam hpomecare yaitu:
-       vital sign
-       memasang nasogastric tube
-       memasang selang susu besar
-       memasang cateter
-       penggantian tube pernafasan
-       merawat luka decukbitus
-       suction
-       memasang peralatan O2
-       penyuntikan (IV,IM, IC,SC)
-       Pemasangan infus maupun obat
-       Pengambilan preparat
-       Pemberian huknah/laksatif
-       Kebersihan diri
-       Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
-       Tranpostasi klien untuk pelaksanaan pemeriksaan diagnostik
-       Penkes
-       Konseling kasus terminal
-       konsultasi/telepon
-       Fasilitasi ke dokter rujukan
-       Menyaipkan menu makanan
-       Membersihkan tt pasien
-       Fasilitasi kegiatan sosial pasien
-       Fasilitasi perbaikan sarana klien.
4.    PERMENKES NOMOR HK. 02.02/MENKES/148/2010 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Keperawatan
-       Pasal 2 Ayat  1-2 “ perawat dapat menjalankan praktek pada fasilitasn pelayanan kesehatan diluar praktek mandiri dan atau praktek mandiri “
-       Pasal 3 ayat 1 “ Bahwa setiap perawat yang menjalankan praktek wajib memiliki SIPP “
-       Diwajibkan untuk memiliki STR ( Surat tanda Registrasi ) yang didapatkan melalui uji kopetensi yang dilakukan oleh PPNI .
C.      Ruang Lingkup Pelayanan Praktek Keperawatan
Pelayanan keperawatan yang di berikan berupa bantuan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.
Hasil evaluasi peran dan fungsi perawat puskesmas daerah terpencil (DEPKES & UI,2005)
-       Menetapkan diagnose keperawatan (92,6%)
-       Membuat resep obat (93,1%)
-       Melakukan tindakan pengobatan didalam dan diluar gedung puskesmas (97,1%)
-       Melakukan pemeriksaan kehamilan (70,1%) dan melakukan pertolongan persalinan (50,7%)
Praktik mandiri dapat dilakukan oleh perseorangan maupun kelompok Praktik mandiri sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan :
-       Memiliki ruang praktik yang memenuhi persyaratan kesehatan
-       Memiliki perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan diluar institusi pelayana kesehatan termasuk kunjungan rumah
-       Memiliki perlengkapan adminiistrasi yang memiliki catatan kunjungan, formulir catatan tindakan, asuhan keperawatan, formulir rujukan.
Praktek keperawatan dilakukan berdasarkan pada kesepakan antara perawat dan pasien dalam upaya untuk pencegahan penyakit, pemelihara kesehatan, kuratif, dan pemulihan kesehatan
Praktik keperawatan dilakukan oleh perawat profesional (RN) dan perawatan vokasional (PN)
PN dalam melaksanakan tindakan keperawatan dibawah pengawasan RN
Perawat dapat menyerahkan atau mendelegasika tugas kepada perwat lain yang setara kompetensi dan pengalamannya.
Disamping hal diatas penyelenggaraaan praktek perawat atau keperawatan harus memperhatikan standar keperawatam profesi keperawatan dalam melindungi masyarakat terhadap praktek yang dilakukan oleh anggota profesi, yang merupakan ekspektasi minimal guna memberikan asuhan keperawatan yang aman,efektif, dan etis.
Standar praktek keperawatan meliputi :
-       Standar I : Ilmu keperawatan
Perawat profesional melaksanakan prakteknya didasarkan pada ilmu keperawatan dan materi yang relevan dengan keperawatan yang berasal dari ilmu-ilmu lain dan humaniora,serta secara terus-menerus mengembangkan diri sepanjang kehidupan keprofesiannya.perawat profesional harus memahami dan menganalisis empat konsep serta hubungan keempatnya yang terdiri dari keperawatan,manusia,konsep sehat-sakit serta lingkungan,memahami peran perawat profesional,hubungan antara perawat dengan individu dan kelompok,hubungan antar sesama perawat,hubungan antara perawat dengan disiplin/profesi kesehatan lainnya,memahami tahapan proses keperawatan,prinsip-prinsip dalam intervensi keperawatan,menganalisis kesehatan yang lazim terjadi,memahami keadaan klien;kritis,akut,resiko tinggi ataukah normal.menganalisis isu-isu tentang keperawatan,kerangka konsep tentang etik dan legislasi yang mempengaruhi situasi dimana perawat bekerja.memahami metodologi penelitian dalam keperawatan,konsep kepemimpinan,manajemen sumber-sumber pelayanan kesehatan,dan sistem pelayanan kesehatan.
-       Standar II : Akontabilitas profesional perawat profesional menjalankan fungsi independen dan interdependen serta harus dapat memenuhi persyaratan etis dan legal dalam menjalankan praktek profesionalnya.
-    Standar III : Pengkajian Perawat profesional melalui konsultasi dengan klien mengumpulkan data tentang kesehatan klien secara sistematis untuk pemeriksaan awal,pengkajian yang terus-menerus dan pengkajian yang lebih rinci untuk hal-hal tertentu dalam rangka menentukan satu atau lebih diagnosa keperawatan.
-      Standar IV : Perencanaan Perawat profesional melalui konsultasi dengan klien mengindentifikasi prioritas,waktu pencapaian,dan strategi/intervensi dari standar rencana keperawatan yang bersifat individual sehingga dapat mencapai hasil akhir yang paling mungkin dicapai untuk setiap klien.
-   Standar V : Implementasi Membuat pertimbangan dalam memodifikasi tahap implementasi untuk disesuaikan dengan situasi klien.
- Standar VI : Evaluasi Perawat profesional berkonsultasi dengan klien secara sistematika mengevaluasi sejauhmana hasil yang diharapkan telah dicapai.perawat profesional mengevaluasi asuhan keperawatan terhadap klien secara individu maupun keseluruhan praktek keperawatan yang telah dilaksanakannya.Perawat profresional berpartisipasi dalam mengevaluasi sistem pemberian pelayanan keperawatan.
3.1    Praktek Farmasi
  1. Pengertian
Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri dari Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan Sumpah Jabatan Apoteker
Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker.
Pekerjaan Kefarmasian yang menyangkut proses produksi, proses penyaluran dan proses pelayanan dari Sediaan Farmasi yang tidak boleh diketahui oleh umum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
  1. Sumber Hukum Praktek Farmasi
PP 51/2009 : Pekerjaan Kefarmasian mencakup beberapahal diantaranya yaitu :
1.    Dalm penyelenggaraan praktek Farmasi diwajibkan memiliki STRA ( Surat Tanda Registrasi Apoteker ) dengan mengikuti uji Kopentensi yang dilakukan Oleh ATFI ( Asosiasi Tenaga Farmasi Indonesia ) sebagai syarat leglisasi penyelenggaraan praktek keperawatan.
2.    Dalam penyelenggaraan praktek kefarmasian , tenaga farmasi bisa menjaga rahasia dokter dan rahasia kefarmasian.
3.    Dalam prakteknya tenaga kefarmasian dikelola oleh tenaga yang disebut dengan Apoteker.
  1. Ruang Lingkup Pelayanan Praktek Farmasi
Ruang lingkup pelayanan praktek farmasi meliputi proses produksi, proses penyaluran dan proses pelayanan dari Sediaan Farmasi.
Disamping itu pelaksanaan praktek kefarmasian mengacu pada standar kefarmasian yaitu :
1.    Asuhan Kefarmasian
Pharmaceutical care adalah konsep dasar dalam pekerjaan kefarmasian yang timbul pertengahan tahun 1970-an. Dia mengisyaratkan bahwa semua praktisi kesehatan harus memberikan tanggung jawab atas dampak pemberian obat pada pasien. Hal ini meliputi bermacam-macam pelayanan dan fungsi, beberapa masih baru sebagian sudah lama.Konsep pharmaceutical care juga termasuk komitmen emosional pada kesejahteraan pasien sebagai individu, yang memerlukan dan patut mendapat petunjuk /jasa, keterlibatan dan perlindungan dari seorang apoteker. Pharmaceutical care dapat ditawarkan pada individual atau masyarakat.
Pharmaceutical care yang berbasiskan masyarakat menggunakan data demografi dan epidemiologi untuk mengembangkan formula atau daftar obat, memonitor kebijakan apotik, mengembangkan dan mengelola jaringan farmasi (apotik) menyiapkan serta menganalisa laporan penggunaan obat, biaya obat, peninjauan penggunaan obat dan mendidik provider tentang prosedur dan kebijaksanaan obat.. Tanpa pharmaceutical care, tidak ada sistem yang mengelola dan memonitor kesakitan karena obat secara efektif. Sakit karena obat bisa terjadi berasal dari formularium atau daftar obat-obatan, atau sejak obat diresepkan, diserahkan atau obat yang sudah tidak layak digunakan. Karena itu pasien butuh pelayanan apoteker pada waktu menerima obat. Keberhasilan farmakoterapi merupakan sesuatu yang spesifik untuk masing-masing pasien. Untuk pelayanan pengobatan pasien secara individual, apoteker perlu mengembangkan pelayanan bersama dengan pasien.
Pharmaceutical care tidak dalam isolasi pelayanan kesehatan lain. Dia harus di dukung dalam kolaborasi dengan pasien, dokter , para medis dan tenaga pemberi pelayanan lainnya.Tahun 1998 Pharmaceutical care di adopsi oleh FIP dan merupakan penuntun (guidance) bagi organisasi apoteker untuk mengimplementasikan pelayanan kefarmasian di negaranya tapi disesuaikan lagi menurut kebutuhan negara masing-masing.
2.    Farmasi berdasarkan bukti.
Dalam lingkungan pelayanan kesehatan agak sukar membandingkan keefektifan berbagai pengobatan. Intervensi layanan kesehatan tidak bisa didasarkan pada pendapat atau pengalaman individu sendiri. Bukti ilmiah dibuat dari penelitian yang berkualitas, yang digunakan sebagai penuntun, diadaptasikan pada negara-negara masing-masing. Lebih jauh tentang ini akan diuraikan pada bab lain.
3.    Kebutuhan Menjumpai pasien.
Dalam pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien , tantangan pertama adalah untuk mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan pasien yang berubah.. Apoteker harus dapat menjamin bahwa orang-orang bisa memperoleh obat atau nasehat kefarmasian dengan mudah, sejauh mungkin dalam satu jalan, satu waktu dan satu tempat dari pilihan mereka. Apoteker harus bisa memberdayakan pasien dan melakukan dialog guna menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki dalam mengelola pengobatan dan kesehatan sendiri. Meskipun pasien mendapat jangkauan yang luas untuk memperoleh informasi baik dari brosur,barang-barang promosi, iklan di media massa dan melaui internet, informsi ini tidak selalu akurat dan lengkap. Apoteker dapat membantu pasien memberikan informasi yang lebih akurat dengan memberikan informasi berdasarkan bukti dari sumber-sumber yang dipercaya. Konseling melalui pendekatan perjanjian tentang pencegahan penyakit dan modifikasi gaya hidup (lifestyle) akan meningkatkan kesehatan masyarakat disamping memberikan petunjuk bagaimana menggunakan obat yang tepat , mengoptimalkan dampak kesehatan, mengurangi jumlah jenis obat pada setiap pengobatan, mengurangi jumlah obat yang bersisa dan meningkatkan pelayanan kesehatan.
Dalam tahun 2000 publikasi dari Kementerian Kesehatan Inggris berjudul "Pharmacy in the Future " disusun untuk keperluan seorang apoteker untuk meningkatkan dan memperluas kisaran pelayanan kefarmasian pada pasien termasuk identifikasi kebutuhan obat perorangan, pengembangan kerjasama dalam bidang kesehatan, kordinasi dari poses peresepan dan peracikan, peninjauan kembali target pengobatan dan tindak lanjutnya. Pendekatan ini juga memuat model apotik masa depan . Kerangka baru dari farmasi komunitas yang akan dilaksanakan merupakan kunci dalam pelayanan kefarmasian masa depan. Farmasi komunitas akhir-akhir ini akan menjamin kembali pelayanan yang diharapkan pasien, memaksimalkan potensi apoteker untuk memberikan ketrampilan mereka pada hasil yang lebih baik
4      Kepedulian pada pasien kronis HIV-AIDS.
Dalam sejarah dunia selama ini belum pernah ada tantangan kesehatan sehebat menghadapi penyebaran ( pandemi ) HIV-AIDS .
Diperkirakan 40 juta orang didunia tahun 2004 hidup dengan HIV dan 3 juta orang mengidap AIDS . Penularan HIV / AIDS menampilkan masalah kemanusiaan yang luar biasa , hak azasi manusia, krisis kemanusiaan dan tragedi sosial luar biasa yang memukul ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Ketersediaan sumber keuangan untuk pengobatan retrovirus (ART) mulai meningkat berasal dari WHO dan negara yang tergabung kelompok G-8 guna pencegahan dan pengobatan HIV / AIDS sampai tahun 2010.
Salah satu profesi kesehatan yang harus dilibatkan dan digerakkan dalam melawan HIV / AIDS ini adalah apoteker. Untuk itu perlu pelatihan terhadap profesi apoteker.
Pada tahun 2003 , Majelis FIP mengadopsi standar Profesi tentang Peranan Apoteker dalam penanganan Pengobatan Jangka Panjang, seperti HIV - AIDS ini.
5.    Pengobatan Sendiri (SELF MEDICATION).
Pada Tahun 1996 Majelis FIP mengadopsi aturan tentang " Peranan Profesi Apoteker dalam Pengobatan Sendiri " untuk digunakan sebagai tanggung jawab apoteker dalam pemberian advis pada pengobatan sendiri yang terdiri dari ; pengantar farmasi, promosi penjualan; advis pada pengobatan simptom, hal-hal yang spesifik tentang obat, catatan rujukan dan kepercayaan diri.
Pada tahun 1999 dikeluarkan Deklarasi bersama mengenai Self Medication antara majelis FIP dan Industri Pengobatan Sendiri Dunia ( WSMI ) sebagai pemandu apoteker dan industri dalam hal keamanan dan keefektifan penggunaan obat-obatan tanpa resep .
Luasnya Peranan Apoteker.
Sebagai seorang yang ahli dalam hal obat-obatan karena pendidikannya , apoteker harus selalu dikenal dan dapat dihubungi sebagai sumber nasehat yang benar tentang obat-obatan dan masalah pengobatan. Saat ini kontribusi apoteker pada perawatan kesehatan ( health care ) sedang berkembang dalam bentuk baru untuk mendukung pasien dalam penggunaan obat dan sebagai bagian dari pembuat keputusan klinis bersama spesialis yang lain.
Apotik harus terbuka sepanjang hari, nyaman untuk banyak orang ketika mendapatkan obat dan tidak perlu harus ada janji untuk ketemu apotekernya. Ini membuat apotik menjadi tempat pertama bagi bantuan pemeliharaan kesehatan yang biasa.
Pengobatan sendiri yang biasa akan menjadi lebih populer, tumbuh dengan aman dengan obat-obatnya yang mudah didapat tanpa perlu dengan resep dokter.
Apoteker harus mempunyai keahlian dalam memberi nasehat, memilih obat dan keamanannya serta keefektifan penggunaannya.
6.    Jaminan Mutu  ( Q.A.) Dari pelayanan kesehatan.
Konsep yang menjadi dasar pelayanan kesehatan adalah jaminan kualitas dari pelayanan pasien. Donabedian mendefinisikan 3 unsur jaminan mutu dalam pelayanan kesehatan adalah : struktur, proses dan dampak.
Definisi Quality Assurance adalah rangkaian aktifitas yang dilakukan untuk memonitor dan meningkatkan penampilan sehingga pelayanan kesehatan se efektif dan se efisien mungkin. Dapat juga didefinisikan QA sebagai semua aktifi tas yang berkontribusi untuk menetapkan, merencanakan, mengkaji, memoni tor,dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Aktifitas ini dapat ditampilkan sebagai akreditasi pelayanan farmasi ( apotik), pengawasan tenaga kefarmasian atau upaya lain untuk meningkatkan penampilan dan kualitas pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan dan praktek dari pharmaceutical care harus di dukung dan di tingkatkan dengan pengukuran, pengkajian dan peningkatan aktifitas apotik , penggunaan kerangka konsep peningkatan kualitas secara berkesinambungan. Dalam banyak kasus kualitas pelayanan kefarmasian dapat ditingkatkan dengan membuat perubahan pada sistem pelayanan kesehatan atau sistem pelayanan kefarmasian tanpa perlu menambah sumber daya.
7.    Farmasi Klinis.
Istilah farmasi klinis dibuat untuk menguraikan kerja apoteker yang tugas utamanya berinteraksi dengan tim kesehatan lain, interview dan menaksir pasien, membuat rekomendasi terapi spesifik, memonitor respons pasien atas terapi obat dan memberi informasi tentang obat. Farmasi klinis tempat kerjanya di rumah sakit dan ruang gawat darurat dan pelayanannya lebih berorientasi pada pasien dari pada berorientasi produk. Farmasi klinis dipraktekkan terutama pada pasien rawat inap dimana data hubungan dengan pasien dan tim kesehatan mudah diperoleh.
Rekam Medis ( medical record ) atau file dari pasien adalah dokumen resmi termasuk informasi yang diberikan rumah sakit, dimulai dari riwayat pasien , kemajuan latihan fisik sehari-hari yang dibuat tenaga kesehatan yang profesional yang berinteraksi dengan pasien, konsultasi , catatan perawatan, hasil laboratorium, prosedur diagnosa dsb.
Farmasi klinis memerlukan pengetahuan terapi yang tinggi, pengertian yang baik atas proses penyakit dan pengetahuan produk-produk farmasi. Tambahan lagi farmasi klinis memerlukan ketrampilan berkomunikasi yang baik dengan pengetahuan obat yang padat ketrampilan monitoring obat, pemberian informasi obat , ketrampilan perencanaan terapi dan kemampuan memperkirakan dan menginterpretasikan hasil laboratorium dan fisik.
Penakaran farmakokinetik dan monitoring merupakan ketrampilan dan pelayanan istimewa dari farmasi klinis. Seorang farmasi klinis adalah sering merupakan anggota tim kesehatan yang aktif , ikut serta ke bangsal untuk mendiskusikan terapi di ruang rawat inap.
8.    Farmakovigilance ( Farmasi siaga / Kewasadaan Farmasi )
Keamanan obat-obatan adalah issu penting yang lain , karena kompetisi yang kuat diantara pabrik farmasi , dimana produk harus didaftarkan dan di pasarkan di banyak negara secara serentak. Hasilnya adalah efek samping tidak boleh ada dan tidak terpantau secara sistematis.
Farmacovigilance adalah suatu proses yang terstruktur untuk memantau dan mencari efek samping obat ( advere drug reaction ) dari obat yang telah diberikan.
Data-data diperoleh dari sumber-sumber seperti Medicines Information, Toxicology and Pharmacovigilance Centres yang lebih relevan dan bernilai pendidikan dalam manajemen keamanan obat. Masalah yang berhubungan dengan obat, sekali ditemukan , perlu ditetapkan , di analisa ,di tindak lanjuti dan dikomunikasikan pada pejabat yang berwewenang, profesi kesehatan dan masyarakat.
Farmacovigilance termasuk penyebarluasan informasi, Dalam beberapa kasus, obat-obatan dapat direcall, dicabut izin edarnya dari pasaran dan ini dilakukan oleh institusi yang terlibat dalam distribusi obat-obatan. Apoteker harus memberikan kontribusi yang penting untuk melakukan post marketing surveilance dan pharmacovigilance ini.



BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
-       Dalam penyelenggaraan praktek mandiri dan atau diluar praktek mandiri seorang bidan diperkenankan menyelenggarakan praktek mandiri dengan ketentuan sesuai dengan KEPMENKES RI NOMOR 369/MENKES/SK/III/2007 yaitu harus memiliki SIPB ( surat izin Praktek bidan ) sebagai syarat legalisasi .
-       Berdasarkan UU No. 23 / 1992  Tentang Kesehatan,KEPMENKES 1239/2001,SK DIRJEN DIRJEN YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311 ,dan PERMENKES NOMOR HK. 02.02/MENKES/148/2010 penyelenggaraan praktek mandiri dan atau diluar praktek mandiri diwajibkan memiliki STR ( Surat Tanda Registrasi ), SIPP ( Surat Izin Praktek perawat ) dan pelayanan yang boleh dilakukan oleh seorang perawat dalam praktek mandirinya .
-       Mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 penyelenggaraan praktek kefarmasian dikelola oleh seorang apoteker, dalam penyellenggaraan prakteknya harus memiliki STRA ( Surat tanda Registrasi ) yang didapat dengan mengikuti uji kopetensi dari instansi yang bersangkutan sebagai bentuk legalisasi penyelenggaraan praktek kefarmasian.
3.2    Saran
Pemberian informasi tentang prosedur penyelenggaraan praktek dari instasi masing-masing yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan tentang penyelenggaraan praktek bidan , perawat, dan farmasi dengan tujuan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan ( malpraktek ) yang secara tidak langsung akan memberikan kenyamanan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat.



BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1.    Permenkes No. 148 tahun 2010 , Izin dan penyelenggaraan Praktek perawat
2.    Artikel PPNI , Standar Praktek Keperawatan
4.    Standar kerja Profesi Apoteker, http://aptfi.or.id/
5.    Aspek Legal Praktek Perawat , ROCHANI ISTIAWAN, MKep.,SpKom
6.    Tata kelola Praktek Apoteker, Ali Mashuda, S. Si., Apt

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar