Konsep Keamanan di lingkungan poliklinik


BAB I
PENDAHULUAN

 
1.1      Latar Belakang
Konsep keamanan sejak dulu merupakan sesuatu hal yang penting , didalam sebuah negara konsep keamanan merupakan wujud kedaulatan sebuah negara , yang artinya merupakan sebuah bentuk kedaulatan negara dalam hal mencegah terjadinya perang dan tindakan yang mengancam kedaulatan negara tersebut.
Semakin berkembangnya pemikiran manusia akan konsep keamanan  memberikan pemahaman yang luas tentang konsep keamanan yang tidak lagi mendifinisikan konsep keamanan untuk membela kedaulatan negara saja akan tetapi diterapkan dalam berbagai hal dengan tujuan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan dalam lingkungan sekitar dimana mereka tinggal.
Saat ini pemahaman konsep keamanan di berbagai instansi sudah meulai menerapkan dengan berbagai pemahaman keamanan , misalnya adanya security di tiap instansi untuk menjaga keamanan instansi tersebut.
Konsep keamanan lingkungan di poliklinik berkaitan dengan bagaimana kita dan semua karyawan klinik dalam menjaga keamanan klinik sehingga tidak terjadi hal-hal yang menggaggu stabilitas sebuah poliklinik itu sendiri, sebagai contoh kita sebagai perawat harus berhati – hati dalam pemberian obat harus sesuai dengan instruksi.
Melihat hal tersebut diatas menjadikan konsep keamanan sebagai salah satu elemen penting untuk menjaga keamanan di lingkungannya.
1.2      Rumusan Masalah
Dari Latar belakang di atas penyusun mengambil rumusan untuk di bahas dalam penulisan makalah ini yaitu tentang “ Konsep Keamanan dilingkungan Poliklinik”
1.3      Tujuan
Tujuan penyunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pancasila dan Kewiraan di STIKES BHAKTI KENCANA BANDUNG.



1.4      Manfaat
Penyusunan makalah ini diharapkan memberikan banyak manfaat khususnya bagi penyusun sendiri dan umum untuk pembaca memberikan pengetahuan dan informasi tentang Konsep kemanana di lingkungan poliklinik.
1.5      Sistematika Pembahasan
BAB I. Pendahuluan berisi tentang latarbelakang, rumusan masalah,tujuan , manfaat, dan sistematika pembahasan.
BAB II. Tinjauan teoritik berisi tentang pengertian konsep keamanan dilingkungan poliklinik.
BAB III. Pembahasan berisi tentang konsep keamanan di lingkungan poliklinik.
BAB IV. Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka berisi tentang sumber dan literatur-literatur yang digunakan dalam penyusunan makalah ini



















BAB II
TINJAUAN TEORITIK
KONSEP KEAMANAN  DILINGKUNGAN POLIKLINIK

2.1    Pengertian
Secara umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff (dalam Amin, 1987), mendefinisikan konsep sebagai berikut: (1) suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, (2) suatu pengertian tentang suatu objek, (3) produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda). Pada tingkat konkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa objek atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep merupakan sintesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman dengan objek atau kejadian tertentu.
Dengan menggunakan definisi pembentukan konsep, Woodruff menyarankan bahwa suatu pernyataan konsepsi dalam suatu bentuk yang berguna untuk merencanakan suatu unit pengajaran ialah suatu deskripsi tentang sifat-sifat suatu proses, struktur atau kualitas yang dinyatakan dalam bentuk yang menunjukkan apa yang harus digambarkan atau dilukiskan sehingga siswa dapat melakukan persepsi terhadap proses, struktur atau kualitas bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini, Woodruff (Amin, 1987) telah mengidentifikasi 3 macam konsep yaitu (1) konsep proses: tentang kejadian atau perilaku dan konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan bila terjadi, (2) konsep struktur: tentang objek, hubungan atau struktur dari beberapa macam, dan (3) konsep kualitas: sifat suatu objek atau proses dan tidak mempunyai eksistensi yang berdiri sendiri.
Pemahaman konsep diperoleh melalui proses belajar. Sedangkan belajar merupakan proses kognitif yang melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses tersebut adalah : (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan ketetapan pengetahuan. (Dahar, 1991)
Keamanan berasal dari kata aman yang artinya adalah keadaan bebas dari bahaya. Juga mempunyai makna yang bertujuan untuk mencapai ketentraman dan kenyamanan dalam melakukan aktivitas .
Pengertian keamanan yang lebih luas memproduksi dan menciptakan rasa aman , yang di dalamnya tercakup rasa nyaman, damai, tenteram dan tertib.
Pemahaman terhadap makna dan sub­stansi yang terkandung di dalamnya akan bervariasi tergantung kepada tata nilai, persepsi dan kepentingan.
Jadi Konsep keamanan dilingkungan Poliklinik mengandung arti sebuah konsep atau rancangan dalam tujuan untuk menciptakan kemanan dilingkungan poliklinik, baik keamanan dari kejahatan ataupun keamanan pasien itu sendiri ketika berobat.
Poliklinik adalah subsistem dari rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada pasien yang mencakup pelayanan bio, psiko, sosio, spiritual secara menyeluruh.
2.2. Bentuk Konsep Keamanan
Konsep keamanan adalah seperangkat pemikiran atau gagasan yan diyakini kebenarannya dan selanjutnya dituangkan dalam suatu konsep. Formulasi ide dalam ben­tuk konsep tersebut belum dapat dioperasionalkan tanpa adanya sistem.
Keamanan adalah kebutuhan dasar manusia prioritas kedua berdasarkan kebutuhan fisiologis dalam hirarki Maslow yang harus terpenuhi selama hidupnya, sebab dengan terpenuhinya rasa aman setiap individu dapat berkarya dengan optimal dalam hidupnya. Mencari lingkungan yang betul-betul aman memang sulit, maka konsekuensinya promosi keamanan berupa kesadaran dan penjagaan adalah hal yang penting. Ilmu keperawatan sebagai ilmu yang berfokus pada manusia dan kebutuhan dasarnya memiliki tanggung jawab dalam mencegah terjadinya kecelakaan dan cedera sebagaimana merawat klien yang telah cedera tidak hanya di lingkungan rumah sakit tapi juga di rumah, tempat kerja, dan komunitas. Perawat harus peka terhadap apa yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi klien sebagai individu ataupun klien dalam kelompok keluarga atau komunitas.
Secara umum keamanan (safety) adalah status seseorang dalam keadaan aman, kondisi yang terlindungi secara fisik, sosial, spiritual, finansial, politik, emosi, pekerjaan, psikologis atau berbagai akibat dari sebuah kegagalan, kerusakan, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak diinginkan.
 Menurut Craven keamanan tidak hanya mencegah rasa sakit dan cedera tetapi juga membuat individu merasa aman dalam aktifitasnya. Keamanan dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan umum.



2.3    Kateristik Keamanan
a)   Pervasiveness (insidensi)
Keamanan bersifat pervasive artinya luas mempengaruhi semua hal. Artinya klien membutuhkan keamanan pada seluruh aktifitasnya seperti makan, bernafas, tidur, kerja, dan bermain.
b)   Perception (persepsi)
Persepsi seseorang tentang keamanan dan bahaya mempengaruhi aplikasi keamanan dalam aktifitas sehari-harinya. Tindakan penjagaan keamanan dapat efektif jika individu mengerti dan menerima bahaya secara akurat.
c)    Management (pengaturan)
Ketika individu mengenali bahaya pada lingkungan klien akan melakukan tindakan pencegahan agar bahaya tidak terjadi dan itulah praktek keamanan. Pencegahan adalah karakteristik mayor dari keamanan.
2.4    Faktor-Faktor yang mempengaruhi keamanan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melindungi diri dari bahaya kecelakaan yaitu usia, gaya hidup, status mobilisasi, gangguan sensori persepsi, tingkat kesadaran, status emosional, kemampuan komunikasi, pengetahuan pencegahan kecelakaan, dan faktor lingkungan. Perawat perlu mengkaji faktor-faktor tersebut saat merencanakan perawatan atau mengajarkan klien cara untuk melindungi diri sendiri.
a)      Usia
Individu belajar untuk melindungi dirinya dari berbagai bahaya melalui pengetahuan dan pengkajian akurat tentang lingkungan. Perawat perlu untuk mempelajari bahaya-bahaya yang mungkin mengancam individu sesuai usia dan tahap tumbuh kembangnya sekaligus tindakan pencegahannya.
b)      Gaya Hidup
Faktor gaya hidup yang menempatkan klien dalam resiko bahaya diantaranya lingkungan kerja yang tidak aman, tinggal didaerah dengan tingkat kejahatan tinggi, ketidakcukupan dana untuk membeli perlengkapan keamanan,adanya akses dengan obat-obatan atau zat aditif berbahaya.
c)       Status mobilisasi
Klien dengan kerusakan mobilitas akibat paralisis, kelemahan otot, gangguan keseimbangan/koordinasi memiliki resiko untuk terjadinya cedera.
d)      Gangguan sensori persepsi
Sensori persepsi yang akurat terhadap stimulus lingkungan sangat penting bagi keamanan seseorang. Klien dengan gangguan persepsi rasa, dengar, raba, cium, dan lihat, memiliki resiko tinggi untuk cedera.
e)      Tingkat kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan untuk menerima stimulus lingkungan, reaksi tubuh, dan berespon tepat melalui proses berfikir dan tindakan. Klien yang mengalami gangguan kesadaran diantaranya klien yang kurang tidur, klien tidak sadar atau setengah sadar, klien disorientasi, klien yang menerima obat-obatan tertentu seperti narkotik, sedatif, dan hipnotik.
f)       Status emosional
Status emosi yang ekstrim dapat mengganggu kemampuan klien menerima bahaya lingkungan. Contohnya situasi penuh stres dapat menurunkan konsentrasi dan menurunkan kepekaan pada simulus eksternal. Klien dengan depresi cenderung lambat berfikir dan bereaksi terhadap stimulus lingkungan.
g)      Kemampuan komunikasi
Klien dengan penurunan kemampuan untuk menerima dan mengemukakan informasi juga beresiko untuk cedera. Klien afasia, klien dengan keterbatasan bahasa, dan klien yang buta huruf, atau tidak bisa mengartikan simbol-simbol tanda bahaya.
h)      Pengetahuan pencegahan kecelakaan
Informasi adalah hal yang sangat penting dalam penjagaan keamanan. Klien yang berada dalam lingkungan asing sangat membutuhkan informasi keamanan yang khusus. Setiap individu perlu mengetahui cara-cara yang dapat mencegah terjadinya cedera.
i)        Faktor lingkungan
Lingkungan dengan perlindungan yang minimal dapat beresiko menjadi penyebab cedera baik di rumah, tempat kerja, dan jalanan.









BAB III
PEMBAHASAN
KONSEP KEAMANAN  DILINGKUNGAN POLIKLINIK

Kebutuhan keamanan menurut teori maslow menempati kebutuhan kedua setelah kebutuhan fisiologi , kebutuhan akan rasa aman adalah sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan lingkungannya Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan akan rasa aman ini sangat nyata dan bisa diamati pada bayi dan anak-anak karena ketidakberdayaan mereka. Seorang bayi sebagai contoh, akan memberikan respon ketakutan apabila dia secara tiba-tiba mendengar suara keras atau cahaya yang menyilaukan. Tetapi dengan pengelaman belajarnya, si bayi kemudian hari akan memiliki persepsi bahwa suara keras atau cahaya yang menyilaukan itu bukan hal yang membahayakan dan karenanya tidak perlu dia takuti. Dengan demikian, dari contoh tersebut kita bisa memperoleh gambaran bahwa, sungguhpun kebutuhan akan rasa aman dan kemampuan menetralisasi stimulus-stimulus yang menggangu rasa aman. Sebaliknya, peningkatan urgensi atau mendesaknya kebutuhan akan rasa aman itu juga bisa terjadi akibat pengalaman. Sebagai contoh, seorang anak mengalami kecelakaan akibat dari kecelakaan ini si anak memiliki rasa takut terhadap banyak hal, yang pada gilirannya menyebabkan si anak memiliki keinginan yang kuat untuk dilindungi dan diperhatikan. Indikasi lain dari kebutuhan akan rasa aman pada anak-anak adalah ketergantungan. Menurut Maslow, anak-anak akan memperoleh rasa aman yang cukup apabila mereka berada dalam ikatan dengan keluarganya. Sebaliknya, jika ikatan ini tidak ada tau lemah, maka si anak akan merasa kurang aman, cemas dan kurang percaya diri, yang akan mendorong si anak untuk mencari area-area hidup di mana dia bisa memperoleh ketentraman dan kepastian atau rasa aman.
Konsep keamanan dilingkungan polik klinik merupakan elemen penting sebagai salah satu pelayanan terhadap kebutuhan pasien yang datang ke poliklinik untuk mendapatkan kenyamanan , baik secara fisik, psiko, sosial, spiritual secara menyeluruh dengan tidak memandang status ekonomi dan dari kalangan mana mereka berada.



Dilingkungan klinik konsep keamanan ini meliputi beberapa hal diantaranya :
1.      Kenyamanan dalam pelayanan
dalam pemberian pelayanan kesehatan meliputi pelayanan bio,psiko,sosial, dan spiritual tidak memandang dari status dan kalangan mana tinggal, sehingga akan memberikan kenyamanan dan memberikan keyakinan tentang pemberian pelayanan yang sungguh-sungguh kepada dirinya.
2.      Kenyamanan akan legalitas
Ini berhubungan dengan legalitas pelayanan medis yang sesuai dengan standar profesi pelayanan kesehatan , diantaranya perawat yang mempunyai legalitas dari PPNI berupa SIP ( Surat ijin Perawat ) dan dokter mempunyai STR ( Surat tanda Registrasi ) dari IDI ( Ikatan Dokter Indonesia ) , dengan hal ini paasien akan merasa yakin dan tidak was –was terjadi kesalahan atau malpraktek.
3.      Kenyamanan sarana dan prasarana
ini berhubungan dengan fasilitas lengkap yang dimiliki oleh poliklinik sebagai jaminan bahwa sakit apapun bisa di tangani disini sehingga mereka mempunyai ketenangan dan keyakinan untuk sembuh dari penyakitnya.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konsep keamanan dilingkungan poliklinik adalah bagaimana menciptakan suasana aman , tentram , nyaman bagi setiap mulai dari sarana, prasarana , legalitas,lingkungan , maupun ketika memberikan pelayanan , sehingga menciptakan keyakinan dan ketenangan pada individu yang mendapatkan pelayanan keshaetan dipoliklinik tersebut dengan sendirinya akan memperkuat stabilitas poliklinik untuk lebih maju.










BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Konsep keamanan dilingkungan poliklinik merupakan upaya atau ide pemikirin tentang bagaimana menciptakan rasa aman baik untuk poliklinik maupun individu dalam rangka untuk memberikan keyakinan pada individu ketika hendak mendapatkan jasa pelayanan kesehatan poliklinik tersebut.
Konsep keamanan dilingkungan klinik penting adanya dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan keamanan yang meliputi seluruh aspek bio, psiko, sosio, dan spiritual.
4.2  Saran
Konsep keamanan dilingkungan klinik penting adanya sebagai bagian manajemen dalam pelayanan kesehatan yang konfrehensip diPerlukan  pemikirian yang luas tentang bagaimana menciptakan keamanan untuk semua lapisan baik untuk pelaksana pelayanan kesehatan maupun pengguna pelayanan kesehatan di poliklinik.

















DAFTAR PUSTAKA
2.      Pengertian Konsep, sumber : Media Pembelajaran Blog , http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2035426-pengertian-konsep/
3.      Sukma Rizal, Konsep Keamanan Nasional, http://www.propatria.or.id/download/ Paper%20Diskusi/konsep_kamnas_rs.pdf.
4.      Rupa-rupa Blog, http://rupa-free.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar